Senin, Agustus 18, 2014

Damar, Pohon yang Banyak Manfaat

Standard
DAMAR merupakan hasil hutan non kayu, yang banyak ditemukan di hutan Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. Selama ini, masyarakat memanfaatkan damar untuk bahan vernis, bahan dasar pembuatan perahu hingga dijadikan bahan pembungkus kabel.

Sebenarnya damar merupakan getah dari senyawa polysacarida yang dihasilkan pohon dari genus seperti hopea, balonocarpus, vatica, canoriurn dan agathis yang selama ini tumbuh di daerah yang memiliki ketinggian minimal 300 meter sampai 1.500 meter diatas permukaan laut. Kecuali untuk pohon dari genus bornesis, yang dapat tumbuh di tanah berpasir di ketinggian 0-50 meter diatas permukaan laut.

Menurut sejarah, damar merupakan produk hutan non kayu yang diperdagangkan sebelum perang dunia kedua, dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Indonesia memiliki 115 spesies pohon dan tujuh di antaranya menghasilkan damar.

Ada dua macam damar yang dikenal masyarakat umum, pertama adalah damar batu, yaitu damar bermutu rendah berwarna coklat kehitaman, yang keluar dengan sendirinya dari pohon yang terluka.  Gumpalan-gumpalan besar yang jatuh dari kulit pohon dapat dikumpulkan dengan menggali tanah di sekeliling pohon. Di seputar pohonpohon penghasil yang tua biasanya terdapat banyak sekali damar batu.

Kedua, adalah damar mata kucing, yaitu damar yang bening atau kekuningan yang bermutu tinggi, sebanding dengan kopal, yang dipanen dengan cara melukai kulit pohon. Sekitar 40 spesies dari genus Shorea dan Hopea menghasilkan damar mata kucing, di antaranya yang terbaik adalah Shorea javanica dan Hopea dryobalanoides. Rata-rata pohon damar tumbuh di hutan primer dengan tinggi ratarata 50 meter, dengan diameter dua meter.

Untuk mendapatkan getah damar, dibutuhkan proses dan peralatan. Penyadapan damar dilakukan dengan cara membuat beberapa buah lubang sadap pada batang pohon dalam bentuk segitiga dan disusun secara vertikal (arah ke atas) maupun secara horisontal (arah ke samping).

Tujuan dari penyadapan damar adalah membuka saluran damar sehingga damar keluar dari pohon. Makin besar dan makin banyak jumlah lubang sadap, maka makin banyak jumlah damar yang keluar dari batang pohon. Tetapi konsekuensinya, bila luka pohon terlalu banyak, maka daya tumbuh pohon akan terganggu sehingga pohon hidup merana atau bahkan menjadi tumbang.

Pohon damar mulai disadap pada umur ±-20 tahun atau apabila diameter batang telah mencapai 25 cm. Sebelum penyadapan dilaksanakan. kulit batang pohon damar yang akan disadap dibersihkan terlebih dahulu dengan cara dikerik, agar di sekitar lubang sadap yang akan dibuat bebas dari kotoran atau tatal kayu yang mungkin akan mengotori getah/resin yang keluar.

Setelah pembersihan kulit batang selesai, kemudian dilakukan penyadapan yaitu dengan membuat luka/lubang berbentuk segitiga pada kulit batang, dengan posisi lubang sadap pertama berada sekitar 50 cm di atas permukaan tanah. Ukuran lebar lubang sadap pertama/ muda yang dibuat adalah sekitar 3 cm (tergantung dari lebar mata pisau dari kapak parit yang digunakan) dengan ke dalam setebal kulit batang atau sampai batas kambium (sekitar 2 - 2,5 cm).

Jumlah lubang yang dibuat pada batang pohon yang baru pertama kali disadap (diameter batang sekitar 25 cm) biasanya sebanyak 2 - 4 tempat yang disusun berderet ke atas dalam satu jalur, dengan jarak antar luka sadap dalam jalur vertikal sekitar 40 Cm.

Ukuran lebar lubang sadap akan bertambah besar seiring dengan seringnya batang pohon disadap.  Selain itu jumlah lubang dan jalur sadap akan bertambah pula sejalan dengan bertambahnya ukuran diameter batang pohon yang disadap. Jumlah jalur sadap pada pohon dengan diameter batang 60 - 30 cm adalah sebanyak 4-5 buah, dengan jumlah lubang sadap setiap jalur sebanyak 9 – 11 lubang.

Beberapa saat setelah kulit batang disadap getah akan keluar, dan getah dibiarkan mengalir dan terkumpul di dalam lubang sadap hingga mengering. Setelah getah dammar mengering kemudian damar dipanen/dikumpulkan.

Periode pemanenan getah biasanya sekitar dua minggu sampai satu bulan setelah penyadapan. Cara pemanenan atau pengumpulan getah dari lubang sadap adalah dengan mengeluarkan/mengorek damar dari lubang sadap menggunakan kapak patil. Kemudian ditampung ke dalam tembilung. Setelah semua getah dalam lubang sadap terkumpul dalam tembilung, lubang sadap dibersihkan dari sisa-sisa getah yang mengering dan selanjutnya dilakukan pembaruan luka sadap. Pembaruan luka sadap dilaksanakan dengan membuang atau menyayat beberapa milimeter kulit batang dari tepi lubang sadap sebelumnya.

Pengumpulan getah dari lubang sedap yang tinggi (tidak terjangkau lagi oleh tangan penyedap) dilakukan dengan cara memanjat pohon dengan menggunakan bantuan alit yang dililitkan pada batang pohon dan tubuh penyadap. Setelah semua damar dalam satu pohon yang dipanen tertampung dalam tembilung, kemudian dimasukkan ke dalam babalang untuk selanjutnya diangkut ke tempat pengumpulan.

Pesona Air Terjun Watu Jadah

Standard
SUASANA sepi menemani perjalanan memasuki daerah wisata ini, alamnya masih perawan, banyak hijau pepohonan pinus yang masuk dalam pengelolaan Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Surakarta Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Lawu Selatan. Udara yang sejuk dan segar akan memanjakan siapapun yang mengunjungi daerah ini.

Memang belum banyak orang tahu keberadaan daerah wisata tersebut. Air terjun yang terletak pada ketinggian 650 meter di atas permukaan laut didukung dengan empat objek wisata lain yang saling berdekatan membuat kita tak merasa rugi menempuh perjalanan jauh.

Suara gemericik air yang terdengar sayup-sayup dari kejauhan seperti air yang jatuh menimpa gamelan. Menurut Camat Jatipurno, Agus Sarwanto, aliran air terjun tersebut terdengar dari kejauhan seperti bunyi tabuh gamelan dan warga sekitar menyebut gamelan gaib.

Untuk bisa menikmati air terjun di sana tidak mudah. Sebab selain jaraknya cukup jauh dari Kota Kabupaten Wonogiri, yang diperkirakan harus menempuh jarak sejauh 60 km ke arah Timur dari Wonogiri Kota, juga belum ada akses jalan kendaraan bermotor (Kbm) menuju ke lokasi itu. Kbm hanya bisa ditempuh sampai di Dusun Grenjeng. Selanjutnya harus menempuh jalan kaki sepanjang 260 meter.

Jalan setapak yang baru dibuka sudah bisa dilalui oleh para pengunjung air terjun ini. Praktis karena faktor sarana transportasi dan publiksi yang minim, maka dua lokasi wisata air terjun itu tidak terkenal. Jangankan warga tetangga, penduduk setempat saja, banyak yang tidak mengetahui, kecuali mendapat cerita dari orang yang pernah ke tempat tersebut.

Namun tidak rugi bagi peminat wisata alam jika ke tempat ini dengan berjalan kaki. Pasalnya pemandangan sepanjang jalan menuju ke lokasi air terjun menyuguhkan kesegaran alami. Antara lain pemandangan pepohonan yang rindang dan hijau, susana yang sejuk, tanaman pepohonan pinus, cengkeh, durian, kelapa, kakau dan tanaman padi sawah serta tanaman lainnya. Alunan suara burung dan belalang jengkerik saling bersautan berebut dengan irama air sungai untuk mencuri perhatian kesunyian.

Sepanjang perjalanan, tampak warga setempat sibuk bertani dan merumput, itu artinya menunjukan wilayah setempat cukup banyak ditempati penduduk. Susana perjalanan melalui anak sungai Watu Jadah adalah pijatan kerikil kecil sepanjang sungai dangkal, sejuk dan jernih.

Sebelum menemukan Watu Jadah, pengunjung akan menemui air terjun pertama, yakni air terjun Binangun yang memiliki ketinggian sekitar 10 - 25 meter. Di atasnya terdapat tiga kubangan air yang dangkal. Di tempat ini pengunjung bisa berendam sembari merasakan tekanan aliran air. Bebatuan besarbesar menjadi pemandangan disertai rerimbunan pepohonan.

Untuk mencapai air terjun Watu Jadah, pengunjung harus berjalan kembali selama 20 menit. Watu Jadah terlihat seperti air terjun lain pada umumnya. Namun jika diperhatikan, Watu Jadah memiliki keunikan tersendiri, yakni adanya lempengan bebatuan bertumpuk dengan garis miring 65-90 derajat yang identik dengan bentuk “jadah” atau kue berbahan ketan.

Keunikan lainnya, aliran air terjun ini bisa disesuaikan dengan keinginan. Pengunjung bisa mengatur air terjun sendiri sesuai selera. Caranya sederhana, yakni dengan membendung sungai di atasnya. Permainan sederhana nan mengasyikkan ini biasa dilakukan warga setempat yang berkunjung dengan memainkan bendungan di atasnya.

Air terjun Watu Jadah berada di ketinggian 650 meter di atas permukaan laut didukung dengan empat objek wisata lain yang saling berdekatan. Watu Jadah memang cukup unik, aliran air yang jatuh dari ketinggian 40 meter tersebut memiliki tiga aliran yang cukup jernih, dan bisa langsung diminum. Nama air terjun Watu Jadah berasal dari formasi bebatuan di sekitar air terjun yang berupa lempengan batu berbentuk kotak dan saling bertumpuk seperti jadah atau makanan yang terbuat dari ketan. Air Terjun Watu Jadah berada di lereng Pegunungan Lawu Selatan.

Berdekatan dengan lokasi, juga ada air terjun Sendang Pelangi yang memiliki tinggi 20 meter, yang di dasarnya terlihat bebatuan berwarna-warni diantara riak air terjun yang jernih. Selain itu, juga ada Batu Lokananta atau batu besar menyerupai tempat duduk dan meja peninggalan raja masa lampau, serta Batu Sila Candra Kirana seperti bebatuan kecil pada dinding tebing yang tertata rapi, lalu Candi Singa Dalem yaitu bebatuan yang tertata pada dinding tebing menyerupai bentuk candi.

Pesona wisata alam air terjun, dipadu dengan persawahan, pepohonan pinus dibalut dengan alunan suara binatang yang berebut dengan irama air sungai untuk mencuri perhatian kesunyian. Di sepanjang perjalanan, juga terlihat harmoni alam dengan manusia, yaitu warga setempat yang sibuk bertani dan merumput.

Bagi pengunjung yang beruntung, saat mengunjungi warisan rimba ini dan bertepatan dengan musim durian, maka durian pun bisa menjadi oleh-oleh untuk dibawa pulang melengkapi jajanan khas Wonogiri lainnya seperti keripik sukun, singkong, dan talas.

Legenda Gunung Lawu

Standard
CERITA dimulai dari masa akhir kerajaan Majapahit (1.400 M) pada masa pemerintahan Sinuwun Bumi Nata Bhrawijaya Ingkang Jumeneng Kaping 5 (Pamungkas). Dua istrinya yang terkenal ialah Dara Petak putri dari daratan Tiongkok dan Dara Jingga. Dari Dara Petak terlahir putra bernama Raden Patah. Sementara dari Dara Jingga terlahir putra Pangeran Katong.

Raden Fatah setelah dewasa beragama Islam, berbeda dengan ayahandanya yang beragama Budha. Bersamaan dengan pudarnya Majapahit, Raden Fatah mendirikan Kerajaan Demak dengan pusatnya di Glagah Wangi (Jepara).

Melihat kondisi yang demikian itu, masygul hati Sang Prabu. Sebagai raja yang bijak, pada suatu malam, dia pun bermeditasi memohon petunjuk Sang Maha Kuasa. Dalam semedinya didapatkan wangsit yang menyatakan bahwa sudah saatnya cahaya Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan Demak.

Pada malam itu pulalah Sang Prabu dengan hanya disertai pemomongnya yang setia, Sabdopalon, diam-diam meninggalkan keraton dan melanglang praja dan pada akhirnya naik ke Puncak Lawu. Sebelum sampai di puncak, Sang Prabu bertemu dengan dua orang kepala dusun yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai abdi dalem yang setia, dua orang itu tak tega membiarkan tuannya begitu saja. Merekapun pergi bersama ke puncak Harga Dalem.

Saat itu Sang Prabu bertitah, “Wahai para abdiku yang setia, sudah saatnya aku harus mundur.  Aku harus moksa dan meninggalkan dunia ramai ini. Dipa Menggala, karena kesetiaanmu, kuangkat kau menjadi penguasa Gunung Lawu dan membawahi semua mahluk ghaib dengan wilayah ke barat hingga wilayah Gunung Merapi/Merbabu, ke timur hingga Gunung Wilis ke selatan hingga pantai selatan, dan ke utara sampai dengan pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan kepada Wangsa Menggala, kau kuangkat sebagai patihnya dengan gelar Kyai Jalak.”

Tak kuasa menahan gejolak di hatinya, Sabdopalon pun memberanikan diri berkata kepada Sang Prabu, “Bila demikian adanya hamba pun juga pamit berpisah dengan Sang Prabu, hamba akan naik ke Harga Dumiling dan meninggalkan Sang Prabu di sini”.

Singkat cerita Sang Prabu Brawijaya pun muksa di Harga Dalem, dan Sabdopalon moksa di Harga Dumiling. Tinggallah Sunan Gunung Lawu sebagai Sang Penguasa Gunung dan Kyai Jalak yang karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya kemudian menjadi mahluk gaib dan hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Sang Prabu Brawijaya.

Gunung Lawu: Pusat Kegiatan Spiritual Tanah Jawa

Standard
DI bagian lain di bawah puncak terdapat sebuah bangunan disebut Hargo Dalem untuk berziarah. Di sinilah tempat yang dipercaya sebagai kediaman Eyang Sunan Lawu. Hargo dalem merupakan tempat bertahta raja terakhir Majapahit memerintah kerajaan makhluk halus. Tempat ini berupa makam kuno tempat muksa Sang Prabu Brawijaya. Menurut para peziarah, mereka yang datang wajib melakukan upacara ritual (pisowanan) sebanyak tujuh kali untuk dapat melihat penampakan Eyang Sunan Lawu, walaupun terkadang sudah dapat melihatnya sebelum melakukan tujuh kali pendakian.

Yang unik dari puncak Gunung Lawu adalah keberadan warung makan di bawah puncaknya dengan bangunan yang lumayan. Pendaki dapat melepas lelah, makan, minum dan tiduran di warung tersebut, berbeda dengan puncak gunung lain di dunia. Inilah keunikan Gunung Lawu dengan ketinggian 3.268 meter.

Tak jauh dari Hargo Dalem kita akan menjumpai Pasar Diyeng atau Pasar Setan, berupa sekumpulan batu yang berblok-blok tertata rapi layaknya sebuah komplek, pasar ini hanya dapat dilihat secara gaib.

Pasar Diyeng akan memberikan berkah bagi para pejiarah yang percaya. Bila berada ditempat ini kemudian secara tiba-tiba kita mendengar suara “mau beli apa dik?” maka segeralah membuang uang terserah dalam jumlah berapapun, lalu petiklah daun atau rumput seolah-olah kita berbelanja, maka sekonyong-konyong kita akan memperoleh kembalian uang dalam jumlah yang sangat banyak. Namun mengenai kebenaran hal itu, Anda bisa membuktikannya sendiri.

Puncak Lawu seluas 7,40 Hektare terletak di petak 34 Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Blumbang, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan Lawu Utara, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Surakarta. Saat ini pengelolaannya di bawah Kesatuan Bisnis Mandiri (KBM) Jasa Lingkungan dan Produksi Lainnya (JLPL) Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah.

Gunung yang letaknya di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur ini merupakan gunung api “istirahat” dan telah lama tidak aktif, terlihat dari rapatnya vegetasi serta puncaknya yang tererosi. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara).

Gunung Lawu mempunyai kawasan hutan dipterokarp bukit, hutan dipterokarp atas, hutan montane, dan hutan ericaceous. Gunung Lawu juga memberikan inspirasi PT Kereta Api Indonesia dalam penamaan kereta api Argo Lawu, kereta api eksekutif yang melayani rute Solo Balapan-Gambir.

Di lereng gunung ini terdapat sejumlah tempat yang populer sebagai tujuan wisata, terutama di daerah Tawangmangu, Cemorosewu, dan Sarangan. Agak ke bawah, di sisi barat terdapat dua komplek percandian dari masa akhir Majapahit, yakni Candi Sukuh dan Candi Cetho. Di kaki gunung ini juga terletak komplek pemakaman kerabat Praja Mangkunagaran, yaitu Astana Girilayu dan Astana Mangadeg. Di dekat komplek ini terletak Astana Giribangun, yaitu mausoleum untuk keluarga presiden kedua Indonesia, Suharto.

Gunung Lawu menyimpan misteri pada masing-masing dari tiga puncak utamanya dan menjadi tempat yang dimitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa.  Harga Dalem diyakini sebagai tempat pamoksan Prabu Brawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga Dumilah merupakan tempat penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang olah batin dan meditasi.

Konon Gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan berhubungan erat dengan tradisi dan budaya Praja Mangkunegaran. Setiap orang yang hendak pergi ke puncaknya harus memahami berbagai larangan tidak tertulis untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan itu dilanggar si pelaku diyakini bakal bernasib nahas.

Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat yakni Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani.

Mendaki Atap Dunia di Puncak Lawu

Standard
Gunung Lawu memiliki dua buah kawah yaitu Telaga Kuning dan Telaga Lembung Selayur. Selain itu juga terdapat tempat-tempat keramat di sekitarnya, antara lain Sendang Panguripan, Sumur Jolo Tundo, Goa Sigolo-golo, Sendang Drajad, Sendang Macan, Hargo Tumiling, Pasar Dieng, Hargo Dalem, dan Hargo Dumilah.

Segarnya udara pegunungan dan indahnya matahari terbit di puncak Lawu memberikan kekaguman tersendiri bagi para pendaki. Puji syukur kepada Sang Khalik atas kebesaran-Nya berulang kali terucap dari bibir. Ada rasa yang beda saat berada di puncak Lawu. Manusia tak ubahnya seperti titik di tengah luasnya bumi ini. Betapa kecilnya kita di hadapan Sang Maha Pencipta.

Dalam pendakian dari Cemoro Sewu menuju puncak, kita akan menjumpai 4 buah pondok sebagai pos penjagaan, yaitu pada ketinggian 2.100 m, 2.300 m, 2.500 m dan 2.800 m sebelum akhirnya tiba di Pesanggrahan Hargo Dalem pada ketinggian 3.170 m dan puncak Lawu (Hargo Dumilah) pada ketinggian 3.265 meter dari permukaan air laut. Dari pintu masuk Cemoro Kandang menuju Pos 1 (Taman Sari Bawah) jalanan agak landai berupa tanah yang licin bila hujan turun.

Sebelum sampai pos 1 terdapat jalanan kecil menuju air terjun di bawah kawah. Dari sini bau belerang sudah mulai tercium. Menuju Pos 2 (Taman Sari Atas) jalanan sedikit lebih curam dan dari sini pendaki bisa melihat asap mengepul dari kawah Gunung Lawu yang berada tepat di bawah belahan bukit Cokro Suryo dan bagian bukit sebelah timur. Dari pos 2 kita akan melewati jalanan yang agak sempit berliku menyisir tebing, di sisi lain ada jurang pengarep-arep yang dalam. Di sini sering terjadi musibah yang menimpa pendaki saat kabut tebal menutup pandangan.

Sepanjang jalur ini memang agak licin dan sering terjadi longsoran karena kondisi jalanan yang menempel di dinding tebing hingga sampai di pos 3. Dari Pos 3 kita akan melewati jalanan yang terjal, di jalur ini pula ada sebuah tempat yang dikeramatkan berupa sumber mata air yang bernama Sendang Panguripan dengan airnya yang jernih dan sejuk serta dapat diminum langsung tanpa harus khawatir sakit perut. Bunga edelweis juga dapat kita jumpai di sela-sela rerumputan dan pepohonan.

Dari pos 4 menuju ke puncak, jalanan agak mendatar, sedikit menurun, dan ada yang sedikit mendaki. Pemandangan indah di atas Tawangmangu akan terlihat di sepanjang jalan ini. Bahkan dengan menggunakan teropong kita dapat melihat kota Solo dan sekitarnya.

Padang rumput, tanaman edelweis, dan megahnya puncak Cokro Suryo terlihat jelas dari pandangan. Selanjutnya perjalanan berlanjut ke sasono pertapan Hargo Dalem atau dapat langsung berbelok menuju Puncak Hargo Dumilah sebagai titik tertinggi di Gunung Lawu.

Dari puncak tertinggi Hargo Dumilah kita dapat melihat pemandangan luas mengelilingi bukit. Tampak padang rumput yang amat luas membentang dengan Sumur Jolo Tundo di tengahnya sedalam 5 meter bergaris tengah 3 meter. Sumur ini biasa digunakan untuk bersemedi dan dijadikan tempat oleh guru-guru spiritual mengajarkan ilmunya. Tampak pula dari puncak Hargo Dumilah bagian puncak bukit lain yang lebih rendah seperti Hargo Tumiling dan puncak Cokro Suryo.

Menuruni puncak Hargo Dumilah kita bisa menuju ke lokasi lain di sekitarnya seperti mata air Sendang Drajad yang berupa sumur kecil bergaris tengah 2 meter dan memiliki kedalaman 1,5 meter. Meskipun berada di puncak gunung, mata air ini tidak pernah kering walaupun diambil terus menerus. Selain Sendang Drajad ada juga mata air Sendang Macan, tetapi jaraknya sangat jauh dan jalannya menurun menuju arah utara, sehingga jarang didatangi orang.

Sejarah Perum Perhutani

Standard
PERUM Perhutani adalah Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang Kehutanan. Wilayah kerjanya meliputi kawasan hutan Negara, baik hutan produksi maupun hutan lindung, di Pulau Jawa dan Madura. Perum Perhutani mengemban tugas dan wewenang untuk menyelenggarakan kegiatan pengelolaan hutan dengan memperhatikan aspek produksi/ekonomi, aspek sosial dan aspek lingkungan. Dalam opersasinya, Perum Perhutani berada dalam pengawasan Kementerian BUMN dan bimbingan teknis dari Kementerian Kehutanan.

Sejarah pengelolaan hutan di Jawa dan Madura, secara modern-institusional dimulai pada tahun 1897 dengan dikeluarkannya “Reglement voor het beheer der bosschen van den Lande op Java en Madoera”, Staatsblad 1897 nomor 61 (disingkat “Bosreglement”). Selain itu terbit pula “Reglement voor den dienst van het Boschwezen op Java en Madoera” (disingkat “Dienst Reglement”) yang menetapkan aturan tentang organisasi Jawatan Kehutanan, dimana dibentuk Jawatan Kehutanan dengan Gouvernement Besluit (Keputusan Pemerintah) tanggal 9 Februari 1897 nomor 21, termuat dalam Bijblad 5164.

Sejak saat itu, hutan-hutan kayu jati di Jawa mulai diurus dengan baik, dengan dimulainya afbakening (pemancangan), pengukuran, pemetaan dan penataan hutan. Aturan engelolaan hutan di jaman kolonial kemudian mengalami beberapa kali perubahan. Pada tahun 1930, pengelolaan hutan Jati diserahkan kepada badan “Djatibedrijf” atau perusahaan hutan Jati dari Pemerintah Kolonial (Jawatan Kehutanan). Pada tahun 1940 pengurusan hutan Jati dari “Djatibedrijf” dikembalikan lagi ke Jawatan Kehutanan.

Pasca Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, hak, kewajiban, tanggung-jawab dan kewenangan pengelolaan hutan di Jawa dan Madura oleh Jawatan Kehutanan Hindia Belanda q.q. den Dienst van het Boschwezen, dilimpahkan secara peralihan kelembagaan kepada Jawatan Kehutanan Republik Indonesia berdasarkan Pasal II Aturan Peralihan Undang-undang Dasar Republik Indonesia yang berbunyi: “Segala badan negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut undang undang dasar ini.”

Selanjutnya melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 tahun 1961, berdiri Badan Pimpinan Umum (BPU) Perusahaan Kehutanan Negara, disingkat ”BPU Perhutani”. Pada tahun 1972, melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 15 Tahun 1972, Pemerintah Indonesia mendirikan Perusahaan Umum Kehutanan Negara atau disingkat Perum Perhutani.

Melalui serangkaian PP, kemudian PN Perhutani Djawa Timur (Unit II) dan PN Perhutani Djawa Tengah (Unit I), dilebur kedalam Perum Perhutani, dilanjutkan dengan penambahan Unit III Perum Perhutani untuk daerah Jawa Barat. Dasar Hukum Perum Perhutani sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1972 juncto Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1978, kemudian disempurnakan/diganti berturut-turut dengan Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1986, Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 1999 dan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2001.

Pada tahun 2001, bentuk pengusahaan Perum Perhutani sebagaimana ditetapkan pada PP Nomor 14 Tahun 2001 tersebut adalah sebuah BUMN berbentuk Perseroan Terbatas (PT). Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tanggung jawab sosial dan lingkungan yang dimiliki PT Perhutani, bentuk pengusahaan PT Perhutani tersebut kembali menjadi BUMN dengan bentuk Perum berdasarkan PP Nomor 30 tahun 2003. Selanjutnya untuk mendukung pembangunanan nasional, Pemerintah menambah tugas dan kegiatan Perusahaan Umum (Perum) Kehutanan untuk mendukung pengembangan usaha dan kegiatan usaha sebagaimana ditetapkan dalam PP No. 72 Tahun 2010.

Kamis, Agustus 14, 2014

Peluang Usaha: Bisnis Tiket Pesawat Online

Standard
TEMAN-teman, kali ini saya ingin memperkenalkan peluang bisnis yang menarik. Bisnis Tiket Pesawat Online. Booking sendiri, issued sendiri, tanpa operator sama sekali.  

Menarik apanya?

Menarik, karena bepergian dengan pesawat saat ini bukan lagi sesuatu yang mewah.  Setiap orang kini bisa terbang, kata tagline sebuah maskapai.  Dan ke depan tentu makin biasa. Artinya, peluang bisnis di bidang ini akan terus berkembang.

Tetapi kan sekarang ada banyak website yang menawarkan tiket pesawat paling murah dan mudah? Ya.. benar sekali.  Tetapi bisnis ini menawarkan sesuatu berbeda dengan kemudahan yang sama.

Perbedaan antara memesan tiket pesawat secara langsung di website lain dengan di sistem ini, yaitu:
  1. Jika kita memesan tiket di website maskapai atau website lain, maka kita hanya mendapatkan tiket saja. Sedangkan jika memesan di sini kita juga mendapatkan komisi 40% dari total profit.
  2. Kita tidak hanya menikmati komisi tiket dari transaksi pribadi tetapi juga komisi tiket dari member-member dalam jaringan kita. Bahkan dari orang yang kita tidak kenal sama sekali.
  3. Kita mendapatkan suatu sistem bisnis yang memungkinkan suatu pasive income tanpa anda harus menjalankannya terus menerus.
  4. Kita mendapatkan suatu media belajar dalam bidang tiket pesawat sebagi persiapan bilamana suatu saat anda ingin mendirikan travel agent milik sendiri.
  5. Komisi yang kita dapatkan tidak hanya berasal dari transaksi kita tetapi juga berasal dari proses member get member yang bisa dijalankan dengan mudah.
Wah... kedengarannya mirip-mirip MLM, ya? Sekilas iya.  Tapi sebenarnya bisnis tiket ini jauh berbeda.  Perbedaan yang mendasar adalah, Tiket pesawat dibutuhkan semua orang kapanpun dan dimanapun. Repeat ordernya juga tinggi. Apalagi kita bisa menawarkan kepada agen travel ... tanpa promosi pun anda akan mendapatkan komisi dari penjualan tiket secara terus menerus...

Sebagai gambaran, ini dalemannya...



Ini dia profitnya...



Bisnis ini adalah bisnis jangka panjang. Bahkan ketika kita melakukan transaksi pribadi, maka kita tetap berhak mendapat profit. Jadi kalau kita sering bepergian, maka kita tidak perlu repot-repot mencari, nge-cek ketersediaan tiket pesawat.  Kita bisa booking sendiri, issued sendiri, Tanpa Operator sama sekali....dan nantinya ketika sering melakukan transaksi sendiri, lama kelamaan profit nambah, lumayan kan?

Dan apabila kita mereferensikan ke orang-orang sekitar kita, dan jaringan member kita aktif, maka ini akan menjadi benar-benar pasive income.

Bila tertarik silakan mempelajari lebih jauh di sini