Pada dasarnya, semua jenis JERUK itu termasuk buah alkalis atau basa di lambung, tanpa dicampur air minum hangat atau bergumul air liur sekalipun.

Rasa asamnya pun termasuk asam organik, bukan termasuk asam non-organik seperti asam pada cuka, yg dapat merangsang asam lambung tinggi & dapat mencederai lapisan lambung (mukosa) sehingga timbul rasa perih.

Namun kandungan asam sitratnya yg tinggi dapat mengganggu atau melukai kondisi lambung yg sedang mengalami perlukaan atau peradangan, seperti pada pasien Gastritis atau Tukak Lambung sehingga timbul rasa perih (WALAUPUN diminum sedikit).

Apalagi diminum di pagi hari ketika perut kosong, ketika lambung sedang “Lemah”, selain membuat perut perih juga memicu sensitivitas lambung bermasalah dalam mengeluarkan asam lambung sehingga timbul gejala refluks seperti sakit ulu hati, heartburn, sakit & panas dada, tenggorokan mengganjal dll dikemudian waktu, biasanya setelah makan, khususnya pasien Gastritis atau Tukak Lambung (terutama bagi yang sudah endoskopi).

Terlebih, PADA AWALNYA anjuran minum jeruk nipis atau lemon peras yg tercampur dengan air hangat di pagi hari sebelum sarapan, sebenarnya dimaksudkan sebagi Tonic bagi Liver yg sudah bermetabolisme & mendetoksifikasi racun dalam tubuh semalaman.

Manfaatnya bagi lambung?? SEDIKIT (jika hanya dikonsumsi setengah potong jeruk+air hangat), namun resikonya yang lebih banyak & besar, seperti yg dijelaskan di atas sebelumnya.

Memang Jeruk Nipis & Lemon termasuk buah tinggi Vitamin C. Vitamin ini bertindak sebagai kofaktor dalam produksi kolagen, serta mencegah pecahnya luka- luka yang sudah sembuh. Vitamin C dibutuhkan untuk dikonsumsi pasien Gastritis atau Tukak Lambung (Termasuk Pasien Gangguan Pencernaan lainnya seperti Maag, GERD dll) yg bisa didapat dari sayur & buah alami (saya tidak menganjurkan dengan suplemen sintetis kimia Vitamin C pasaran).

Pilihan sayur & buah tinggi vitamin C yg relatif aman bagi pasien Gastritis atau Tukak Lambung (termasuk pasien gangguan pencernaan lainnya) diantaranya: Tomat Manis, Bayam, Brokoli, Semangka, Melon, Bengkoang, Apel Hijau (Granny Smith)/Fuji, Kentang, Pepaya dll

Dengan mengkonsumsi buah & sayur tersebut setiap hari, JELAS lebih banyak bermanfaat, lebih aman & lebih efektif dibanding kita mengkonsumsi “seuprit” jeruk nipis & lemon di pagi hari (belum lagi resiko yg ditimbulkan setelahnya).

Karena proses pemulihan pasien Gastritis atau Tukak Lambung itu berjalan membutuhkan waktu yg tidak sebentar, melibatkan semua unsur pola hidup & pola makan yg sehat & tepat, tidak hanya terpaku pada 1 bentuk terapi seperti anjuran minum air Jeruk Nipis/Lemon di pagi hari, yg terkadang saya temukan di grup ini, yg terkadang membuat saya geli grin emoticon

Buah dengan kandungan asam sitrat tinggi lainnya: Buah Mangga, Nanas, Berry2an (Strawberry, Blueberry dll), Belimbing Wuluh dan lainnya.

Selama pengobatan, selain menghindari buah tinggi asam sitrat, sebaiknya pasien Gastritis atau Tukak Lambung juga menghindari atau berhati-hati dengan:
  1. Buah berkalium tinggi : alpukat, pisang (jika ingin, pisang direbus/ kukus untuk menurunkan kaliumnya) pisang ambon kadar kaliumnya paling tinggi diantara pisang lain, makanya dilarang, sebaiknya hanya pilih pisang raja, karena mengandung glukosa yg baik bagi lambung. 
  2. Makanan berpurin tinggi : daging bebek, jeroan, semua produk seafood (terkadang purin pada tahu & tempe bisa jd problem)
  3. Makanan bertekstur “keras” seperti sayur mentah/ fresh (Rawfood) : Lebih menciptakan gass pressure tinggi di perut yg bikin kembung, sebah dll. Termasuk makanan bertekstur keras lain seperti batu, pasir & kerikil (kalau doyan) grin emoticon
  4. Makanan & Minuman Instan (biskuit, roti, “susu” kambing bubuk dll) dan aneka pantangan makanan klenik lain. Contoh : Pegawet & pengembang (beserta zat kimia lain) pada biskuit & roti, jika tercampur dengan asam lambung (digest proccess) akan menjadi semacam “soda api” yg dapat melukai & memperlebar peradangan atau perlukaan di lapisan lambung (mukosa)
  5. Buah tinggi asam sitrat: Buah Mangga, Nanas, Berry2an (Strawberry, Blueberry dll), Belimbing Wuluh dan lainnya

Karena jenis makanan di atas, selain beresiko membuat perut sakit, juga beresiko melebarkan peradangan atau perlukaan pasien Gastritis atau Tukak lambung, sehingga mengganggu proses peremajaan penyembuhan lapisan lambung (mukosa) & proses penyembuhan lama.

*Saya gak apa2 dan gak perih; sakit perut minum jeniper/ lemon dll? Biasanya itu statement penderita non gastritis dan biasanya belum melakukan endoskopi, pasien Gastritis atau Tukak Lambung itu terjadi penyusutan lapisan lambung (mukosa), secara medis tingkatannya Gastritis Erossive, Kronis, Superfisial, Atrofik, Peptic Ulcer dll. Jangan mau disamakan dengan pasien non-Gastritis, karena penanganan; perawatannya berbeda, jelas pemilihan kebutuhan nutrisinya juga berbeda.

Intinya selama pengobatan back to nature, hanya mengkonsumsi biji2an penuh (nasi), buah dan  sayur yang sehat dan tepat.

Maaf kalau keliru, Silahkan dikoreksi & konsultasi dengan berbagai ahli medis & ahli non medis yg lebih dapat dipertanggung jawabkan secara teori, pengalaman & praktek.

Tulisan: Kiara Sari, Sumber: Grup Facebook GIHM Indonesia

Keraton Kasepuhan Cirebon
Keraton Kasepuhan Cirebon
Puteri Ratu Ayu Sakluh putri dari Pangeran Suwarga (Adipati Cirebon I), masih cicit dari Syarif Hidayatullah, dipersunting Sultan Agung Mataram. Dari perkawinan tersebut, lahir Sunan Tegalwangi yaitu Amangkurat I. Sunan Tegalwangi berputera Amangkurat II yang kemudian menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Penguasa Mataram. Puteri Sunan Tegalwangi berjodoh dengan Panembahan Girilaya putra Pangeran Seda ing Gayam.

Dari puteri Mataram, Panembahan Girilaya berputra tiga, yaitu: Pangeran Mertawijaya alias Pangeran Samsudin, Pangeran Kertawijaya alias Pangeran Badridin, dan Pangeran Wangsakerta.

Karena Ratu Ayu Sakluh itu kakak Panembahan Ratu, maka raja Cirebon dengan raja Mataram masih berkerabat. Tapi raja Matararn, Sunan Tegalwangi, senantiasa ingin merebut Cirebon. Sementara itu raja Cirebon juga berkerabat dengan raja Banten, padahal Banten dengan Mataram selalu bermusuhan.

Setelah Panembahan Ratu wafat, ia digantikan oleh cucunya yaitu Raden Putra alias Raden Rasmi yang kemudian disebut Pangeran Panembahan Adining Kusuma. la bergelar Panembahan Ratu II dan berkuasa penguasa Cirebon selama 12 tahun. Setelah wafat, beliau disebut Pangeran Panembahan Girilaya.

Selama menjadi penguasa Cirebon ia selalu berada di Mataram bersama kedua orang putranya yaitu: Pangeran Samsudin Mertawijaya dan Pangeran Badridin Kertawijaya. Adapun putra Pangeran Panembahan Girilaya yang ketiga tinggal di keraton Cirebon mewakili ayahnya.

Setelah Pangeran Panembahan Girilaya wafat, Pangeran Samsudin Mertawijaya ditunjuk menjadi Panembahan Sepuh kemudian disebut Sultan Kasepuhan pertama, adiknya, Pangeran Badridin Kertawijaya ditunjuk menjadi Panembahan Anom kemudian disebut Sultan Kanoman pertama dan adiknya, Pangeran Wangsakerta ditunjuk menjadi sultan ketiga dengan gelar Panembahan Cirebon.

Pada waktu itu tiga negara ingin menguasai Cirebon yaitu: Banten, Mataram dan Belanda, padahal para sultan menghendaki negaranya merdeka. Sementara itu raja Mataram, Susuhunan Amangkurat pertama sedang bermusuhan dengan Trunojoyo yaitu putra Adipati Madura Pangeran Cakraningrat.

Tentara Madura yang dipimpin oleh Trunojoyo bergabung dengan tentara Makasar yang dikepalai Kraeng Galesung dan Monte Marano. Dalam pertempuran di berbagai daerah, tentara Mataram selalu menderita kekalahan. Tak lama kemudian tentara Madura dan tentara Makasar berhasil merebut ibukota Mataram. Susuhunan Amangkurat dan putranya, Pangeran Dipati Anom beserta para pengiringnya melarikan diri ke arah barat. 

Ketika Ibukota Mataram direbut oleh tentara Madura dan Makasar, Pangeran  Samsudin Mertawijaya dan adiknya berada di sana. Mereka ditawan oleh Trunojoyo lalu dibawa ke Kediri. Juga Ratu Blitar serta beberapa kaulanya. Di sana mereka mendapat perlakuan hormat dari Trunojoyo.

Untuk membebaskan kakak-kakaknya Pangeran Wangsakerta beserta rombongan para pejabat tinggi Cirebon pergi ke Banten memohon bantuan kepada Sultan Ageng Tirtayasa.  Hal ini ia lakukan karena Sultan Banten masih kerabatnya.  Sultan Ageng membantu dengan senang hati.

Rombongan Cirebon bersama tentara Banten selanjutnya pergi menuju Kediri naik menggunakan kapal perang Banten. Trunojoyo dikirim surat oleh Sultan Banten yang berisi permintaan agar para pangeran dari Cirebon beserta pengiringnya dibebaskan. Bersamaan dengan itu Sultan Banten memberikan hadiah sebagai rasa suka citanya karena Trunojoyo berhasil merebut ibukota Mataram.

Kedatangan rombongan disambut baik oleh Trunojoyo.  Panembahan Sepuh, Panembahan Anom beserta pengiringnya demikian juga Ratu Blitar pun dibebaskan.

Selanjutnya rombongan pulang ke Banten dan disambut oleh Sultan Ageng.  Beliau lalu menunjuk Pangeran Samsudin Mertawijaya sebagai Sultan Sepuh yang kemudian disebut Sultan Kasepuhan, Pangeran Badridin Kertawrijaya menjadi Sultan Anom yang kemudian disebut Sultan Kanoman dan Pangeran Wangsakerta menjadi Sultan ketiga dengan sebutan Panembahan Ageng Gusti Cirebon alias Panembahan Tohpati atau Abdul Kamil Mohammad Nasarudin.

Sejak saat itulah berdiri Kesultanan Kasepuhan, Kesultanan Kanoman dan Panembahan Cirebon.

Pada tanggal 10 Nopember 2015 kemarin, Gusti Nurul, sang kembang Mangkunegaran meninggal dunia di Bandung pada usia 94 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Astana Girilayu, Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah. Astana Girilayu merupakan pemakaman dari keluarga besar trah Mangkunegaran. Siapakah tokoh yang pernah menarik hati para tokoh-tokoh besar negeri ini tersebut?

Gusti Nurul yang cantik dan cerdas ini memang cukup menarik untuk disimak. Beliau dilahirkan pada 1921 oleh GKR Timur Mursudariyah (putri sultan Jogja Hamengkubuwono VII), yang merupakan permaisuri HRH Mangkunegoro VII.

Saat lahir orangtuanya memberinya nama Gusti Raden Ajeng Siti Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani. Meski tumbuh dibalik tembok keraton, sang putri yang disekolahkan di sekolah Belanda, memiliki gaya dan pandangan hidup yang terhitung amat modern untuk masanya.

Selain itu sebagai seorang putri keraton yang anggun, beliau tentu mahir menari. Tahun 1937, Gusti Nurul diundang ke Belanda untuk menari di pernikahan Putri Juliana yang dilakukan secara teleconference, yaitu musik gamelan Kanjut Mesem dimainkan di Solo sedangkan Gusti Nurul mendengarkan alunan gamelan melalui telepon dan menari dihadapan tamu undangan pernikahan.

Karena sambungan telepon pada masa itu masih belum sebaik sekarang maka sang Ibu masih memberikan aba-aba secara langsung berupa ketukan-ketukan. Ratu Wilhelmina yang kagum pada Gusti Nurul memberinya gelar de bloem van Mangkunegaran atau kembang dari Mangkunegara.

Dengan segenap kelebihan tersebut, tak heran Gusti Nurul menjadi bunga gemerlap. Tak cuma orang kebanyakan yang takjub. Sedikitnya, ada empat figur top yang menjadi penggemar Gusti Nurul bahkan mereka juga berlomba memperebutkannya. Mereka adalah Soekarno, Sultan Hamengkubuwono IX, Sutan Sjahrir dan Kolonel GPH Djatikusumo. Pada saat itu Soekarno orang nomor satu di republik, Sultan HB IX orang nomor satu di Jogja, Sutan Sjahrir perdana menteri dan Djatikusumo adalah panglima tentara (KSAD).

Begitu kagumnya pada Gusti Nurul, suatu ketika Soekarno mengundangnya ke Istana Cipanas, begitu revolusi usai. Pada saat yang sama, Soekarno juga memanggil pelukis naturalis kesayangannya, Basuki Abdullah. Basuki dimintanya melukis Gusti Nurul. Setelah jadi, lukisan itu pun dipajang di kamar kerja Presiden Soekarno di Cipanas.

Pada setiap rapat kabinet yang digelar di Yogyakarta pada tahun 1946, Sutan Sjahrir selalu mengutus sekretaris pertamanya, Siti Zoebaedah Osman, ke Puri Mangkunegaran, untuk secara khusus mengantarkan kado yang dibelinya dari Jakarta. Bersama kado tersebut, ia juga lampirkan sepucuk surat tulisan tangan dari Sjahrir.

Hubungan kisah cinta Sutan Sjahrir dengan Gusti Nurul lebih banyak melalui korespondensi. Menurut Gusti Nurul sendiri, Sjahrir tidak pernah menemuinya di Istana Mangkunegaran.

Tetapi karena ia menentang pernikahan poligami, Gusti Nurul secara halus menampik semua uluran cinta kasih dari Soekarno, Sultan HB IX, Djatikusumo dan juga tentunya Sutan Sjahrir. Mungkin pengalaman hidup di Istana, dimana ayahnya punya banyak istri membuatnya pantang dimadu.

Konon karena cintanya terhadap Gusti Nurul yang bertepuk sebelah tangan, Sri Sultan HB IX memutuskan untuk tidak memiliki permaisuri, hanya selir saja. Karena beliau menginginkan yang menjadi permaisurinya adalah Gusti Nurul. Dan penerusnya, Sri Sultan HB X adalah putra dari selir ke dua beliau.

Namun bagaimanapun juga, Gusti Nurul tetap menghormati sosok-sosok yang pernah menaruh hati padanya.Demi menentukan pilihan yang diyakininya, Gusti Nurul pun sanggup membujang hingga umur 30 tahun. Usia gadis yang akan bikin orang geleng-geleng kepala ketika itu. Beliau berjuang untuk apa yang beliau yakini terbaik untuk dirinya.

Hebatnya, beliau tak peduli apa kata orang. Baru pada tahun 1951, Gusti Nurul menikah. Yang dipilihnya pun bukan nama besar dengan figur mentereng. Gusti Nurul memilih sepupunya sendiri, Soerjo Soejarso, seorang kolonel militer.   Walau lulusan KMA Breda (lulus 1939), Kolonel Soejarso bukanlah sosok menonjol dalam tubuh TNI. Ia hanya perwira di belakang meja yang diparkir Nasution di detasemen Kavaleri.

Karakternya lembut, dengan tutur kata sopan, khas didikan keluarga aristokrat. Tapi mungkin memang bukan karir yang dicari Gusti Nurul. Toh terbukti, kehidupan keluarganya aman dan damai, sampai akhirnya mereka menjalani hari tua di kota Bandung, kota dimana Soejarso pernah menghabiskan waktu menjadi guru bagi Nasution dan Simatupang, menjadi instruktur pada KMA Bandung.

Saat ini, tak susah untuk menyusuri jejak keayuan masa lalu Gusti Nurul. Datang saja ke Ullen Sentalu yang terletak di lereng Merapi, utara Kota Yogyakarta sebelum Kaliurang. Di museum itu ada ruangan khusus bertajuk Ruang Putri Dambaan yang berisi berbagai memorabilia wanita yang ayu dan kuat tersebut. Hanya sayang, orang tak dibolehkan menjepret ulang foto ayu sang putri. Ruangan ini diresmikan sendiri oleh Gusti Nurul pada hari ulang tahunnya yang ke 81.

Sumber: Semarang Tempo Dulu



Ketika anak kita mulai belajar berjalan, tak jarang tanpa sengaja ia menabrak kursi atau meja. Lalu menangis.

Umumnya, yang kita lakukan agar tangisnya berhenti adalah dengan memukul kursi atau meja yang tanpa sengaja ditabrak itu. Sambil berkata, “Kursinya nakal ... Papa pukul ya... cup….cup…diem sayang... tuh kursinya sudah papa pukul." Dan sang anak pun terdiam.

Namun ternyata, ketika itu dilakukan, sebenarnya kita telah mengajarkan hal terburuk bagi anak kita: bahwa ia tidak pernah salah. Yang salah adalah orang atau benda lain.

Pemikiran tersebut akan terus ia bawa hingga dewasa. Akibatnya, setiap ia mengalami suatu peristiwa dan terjadi suatu kekeliruan, maka yang dianggap salah adalah orang lain, dan dirinya selalu benar. Akibat lebih lanjut, yang pantas untuk diberi hukuman adalah orang lain yang sebenarnya tidak berbuat kesalahan.

Kita sebagai orang tua biasanya baru menyadari hal tersebut ketika si anak sudah mulai melawan. Perilaku melawan ini terbangun sejak kecil karena tanpa sadar kita telah mengajarkannya untuk tidak pernah merasa salah.

Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan ketika anak kita yang baru berjalan menabrak sesuatu sehingga membuatnya menangis?

Ajarkanlah ia untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Sambil mengusap bagian yang terasa sakit, katakanlah padanya,

”Sayang, kamu menabrak kursi ya. Sakit? Lain kali harus hati-hati, jalannya pelan-pelan saja supaya tidak menabrak lagi.”

Dan dia akan belajar bertanggung jawab dengan apa yang ia lakukan.


Di sekitar jalan Prawirotaman Yogjakarta ada sebuah cafe bernama Tempo Gelato.  Sesuai namanya, cafe itu menjual gelato.  Kita menyebutnya es krim.  Meski konon ada perbedaan di antara keduanya.

Cafe tersebut sangat ramai ketika saya kunjungi malam itu. Saya, bersama 3 orang teman, harus menunggu beberapa menit sebelum  kebagian kursi.  Pengunjungnya rata-rata anak muda yang datang berkelompok.  Mereka menikmati kelembutan gelato di cafe itu sambil bergosip ria sesamanya.  Ada juga keluarga bule yang datang bersama anak-anaknya.  Di jalan Prawirotaman Jogja memang banyak bule menginap.

Gelato konon berbeda dengan es krim. Gelato bisa dikatakan es krim Italia. Rasanya juga agak berbeda. Gelato terasa lebih padat dengan tekstur yang halus dan rasa susu yang kuat. Sementara es krim lebih kuat di rasa krim.

Gelato juga memiliki lemak lebih sedikit dibanding es krim. Es krim dibuat dengan krim masak yang mengandung lemak minimal 10 persen. Sementara gelato lebih banyak menggunakan susu dibanding krim. Juga, gelato biasanya menggunakan lebih sedikit kuning telur.

Ada banyak varian rasa yang disediakan di cafe itu.  Saya sempet bingung memilih.  Karena ingin yang aneh, saya memilih rasa kemangi dan kelapa.  Oya ada dua cara penyajian gelato di cafe itu.  Ada yang menggunakan cup (ukuran kecil sedang dan besar) dan ada yang cone.  Saya memilih yang menggunakan cone.

Rasanya? memang terasa lebih padat.  Sensasi dingin dan lembut langsung terasa di lidah.  Rasa kemanginya kuat terasa.  Agak aneh juga, eskrim rasa kemangi. Hehe.  Setelah kemanginya habis, rasa kelapa yang berada di bawahnya baru terasa. Ritual menikmati gelato malam itu diakhiri dengan melumat conenya.  Hmm... lumayan juga. 

Mungkin besok saya harus mencoba varian rasa yang lain.